Home Berita DISEMINASI HASIL PENILAIAN TEKNOLOGI KESEHATAN (PTK) TAHUN 2019

DISEMINASI HASIL PENILAIAN TEKNOLOGI KESEHATAN (PTK) TAHUN 2019

88
0

Pada tanggal 01 Agustus 2019 dilaksanakan pertemuan diseminasi terhadap 2 (dua) studi PTK yang telah dilakukan agen PTK UI dan UGM dengan topik : 1) Evaluasi ekonomi kombinasi rituksimab dan kemoterapi untuk pasien Limfoma Malignum non-Hodgkin’s (LHN) tipe Diffuse Large B Cell; dan 2) Evaluasi ekonomi penambahan trastuzumab pada kemoterapi untuk pasien kanker payudara metastasis (MBC) dengan HER2 positif.

Pertemuan diseminasi ini dihadiri oleh staf khusus Menteri Kesehatan, Komite Penilaian Teknologi Kesehatan, panel ahli, panel adhoc, industri farmasi, tim agen UI dan UGM, pejabat struktural di kementerian kesehatan dan tenaga teknis Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK). Dalam sambutannya dr Kalsum Komaryani, MPPM selaku Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan mengatakan bahwa hasil studi bukan merupakan keputusan final, tetapi berupa rekomendasi kepada Menteri Kesehatan.  Keputusan berkaitan dengan kebijakan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

Diseminasi Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK) ini dilaksanakan setiap tahun terhadap studi PTK yang telah diappraisal oleh Komite PTK sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 51 tahun 2017 tentang Pedoman Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Assessment) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Saat ini studi HTA masih fokus pada obat, namun selain obat, HTA juga bisa menganalisis alkes, prosedur, diagnosis, dan sistem. Dengan banyaknya penyakit di suatu negara sedangkan dana terbatas, maka PTK membantu dalam menentukan apa yang paling baik untuk pasien disandingkan dengan kemampuan negara. Prinsip asuransi adalah ekuitas, keberlanjutan program JKN ini harus mempertimbangkan biaya.

Dari studi trastuzumab diambil kesimpulan bahwa penambahan trastuzumab pada kemoterapi untuk terapi pasien kanker payudara  metastasis dengan HER-2  positif tidak cost-effective jika dicompare antara outcome klinis dan biaya.  Sedangkan untuk studi rituksimab diambil kesimpulan bahwa rituksimab + cyclophosphamide, doxorubicin, vincristine, and prednisone (R-CHOP) lebih efektif daripada CHOP saja dalam hal Overall Survival dan Progression Free Survival. Penggunaan rituksimab pada pasien Limfoma Malignun Non Hodgkins (LNH) tipe Diffuse Large B Cell (DLBCL) : good value for money.

Setelah hasil pertemuan diseminasi dan keputusan interim diumumkan ke publik, para pemangku kebijakan dapat menyampaikan keberatan atas keputusan interim/sementara selama masa sanggah yaitu 30 hari. Dari sanggahan yang masuk Komite PTK akan melakukan diskusi dan kemudian menyusun rekomendasi final untuk dilaporkan ke Menkes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here