Hasil Dan Rekomendasi Studi PTK Untuk Trastuzumab, Lapatinib Dan Rituksimab

0
88

Pelaksanaan penilaian teknologi kesehatan pada tahun ini telah menghasilkan 3 (tiga) studi yang telah direkomendasikan kepada Menteri Kesehatan. Adapun hasil dan rekomendasi dari studi tersebut adalah:

  1. Evaluasi ekonomi kombinasi rituximab dan kemoterapi untuk pasien limfoma malignum non-hodgkins (LNH) tipe Diffuse Large B Cell

Hasil evaluasi ekonomi  memperlihatkan rituximab cost-effective pada LNH DLBCL, namun terdapat isu affordability berdasarkan analisis dampak pembiayaan kesehatan selama lima tahun kedepan. Ketepatan diagnosis dapat mengurangi economic loss sehingga rituximab direkomendasikan untuk dilakukan restriksi dengan pemeriksaan panel lengkap terdiri dari CD 45, CD 20 dan CD3 dan perlu dicantumkan pada revisi Formularium Nasional (Fornas).

  1. Evaluasi ekonomi Penambahan Trastuzumab pada kemoterapi untuk pasien kanker payudara metastasis (MBC) dengan HER2 positif

Analisis data primer di beberapa RS di Indonesia memperlihatkan penambahan trastuzumab pada kemoterapi kanker payudara (KPD) metastasis HER2 +3 memberi luaran klinis berupa progression-free survival dan overall survival yang tidak berbeda bermakna secara statistik dibandingkan kemoterapi saja, didukung dengan hasil evaluasi ekonomi bahwa trastuzumab tidak cost-effective, maka trastuzumab direkomendasikan tidak lagi dibiayai dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk KPD metastasis HER2 +3.

  1. Evaluasi Ekonomi dan review utilisasi pemberian kombinasi lapatinib dan kapesitabin dibandingkan kapesitabin pada pasien kanker payudara metastatis HER2 +3 yang gagal dengan trastuzumab

Berdasarkan hasil systematic review, lapatinib menambah progression-free survival pasien KPD metastasis HER2 +3. Analisis evaluasi ekonomi tidak dapat dilakukan karena jumlah  pasien  yang  memenuhi  kriteria  inklusi/eksklusi  dari  enam  RS  tempat penelitian tidak memenuhi jumlah minimum sampel, namun apabila merujuk pada studi  evaluasiekonomi serupa di negara lain, termasuk negara maju, memperlihatkan bahwa lapatinib tidak cost-effective. Hasil review utilisasi memperlihatkan sebesar 85% dari kasus dengan data  lengkap untuk pemberian kombinasi lapatinib dan kapesitabin tidak sesuai dengan indikasi Fornas dan NCCN. Mempertimbangkan keberlangsungan program JKN, maka lapatinib direkomendasikan tidak lagi dibiayai dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk KPD metastasis HER2 +3 yang gagal dengan trastuzumab.

Rekomendasi kebijakan dari tiga studi ini selanjutnya disampaikan kepada Menteri Kesehatan. Implementasi kebijakan apakah rekomendasi ini diterima, ditolak atau direstriksi merupakan kewenangan dari Menteri Kesehatan dan bukan merupakan bagian dari berita ini.

 

Catatan:

Untuk memperoleh laporan lengkap studi tersebut, dapat mengisi formulir permintaan data pada link berikut: https://bit.ly/FormPermintaanDokumenPTK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here